Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bacaan, Renungan Hari Rabu Abu 3 Maret 2022

Bacaan dan Renungan Harian Katolik Hari Rabu Abu (Rabu 3 Maret 2022)

Rabu Abu 3 Maret 2022, Renungan Rabu Abu 3 Maret 2022, Bacaan Rabu Abu 3 Maret 2022, Liturgi Rabu Abu 3 Maret 2022, Bacaan Pertama Rabu Abu 3 Maret 2022, Bacaan Kedua Rabu Abu 3 Maret 2022, Mazmur Tanggapan Rabu Abu 3 Maret 2022, Bacaan Injil Rabu Abu 3 Maret 2022, Renungan Katolik Rabu Abu 3 Maret 2022, Renungan Injil Rabu Abu 3 Maret 2022, Renungan Bacaan Rabu Abu 3 Maret 2022, Liturgi Rabu Abu 3 Maret 2022, Kotbah Rabu Abu 3 Maret 2022, Arti Hari Rabu Abu 3 Maret 2022

Bacaan Pertama: Yl. 2:12-18

"Sekarang juga, berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh."

“Sekarang,” beginilah sabda Tuhan, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan mengaduh.” Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, lalu meninggalkan berkat menjadi kurban sajian dan kurban curahan bagi Tuhan, Allahmu. Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang lanjut usia, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah pengantin laki-laki keluar dari kamarnya, dan pengantin perempuan dari kamar tidurnya. Baiklah para imam, pelayan-pelayan Tuhan, menangis di antara balai depan mezbah, dan berkata, “Sayangilah, ya Tuhan, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa-bangsa: “Di mana Allah mereka?” Maka Tuhan menjadi cemburu karena tanah-Nya dan menaruh belas kasihan kepada umat-Nya.

Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: 51:3-4.5-6a.12-13.14.17

Ref. Mohon ampun kami orang berdosa.

  • Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, menurut besarnya rahmat-Mu, hapuskanlah pelanggaranku. Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku dan tahirkanlah aku dari dosaku!
  • Sebab aku sadar akan pelanggaranku, dosaku selalu terbayang di hadapanku. Terhadap Engkau sendirilah aku berdosa, yang jahat dalam pandangan-Mu kulakukan.
  • Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan baharuilah semangat yang teguh dalam diriku. Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil Roh-Mu yang kudus dari padaku!
  • Berilah aku sukacita karena keselamatan-Mu, dan teguhkanlah roh yang rela dalam diriku. Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku mewartakan puji-pujian kepada-Mu!

Bacaan Kedua: 2Kor. 5:20-6:2

"Berilah dirimu didamaikan dengan Allah, sesungguhnya hari ini adalah hari penyelamatan."

Saudara-saudara, kami ini adalah utusan-utusan Kristus; seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami. Dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Kristus yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. Sebab teman-teman sekerja, kami menasihati kamu supaya kamu jangan membuat sia-sia kasih karunia Allah yang telah kamu terima. Sebab Allah berfirman, “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.” Camkanlah, saat inilah saat perkenanan itu; hari inilah hari penyelamatan itu.

Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur Kepada Allah.

Bait Pengantar Injil: PS 965

Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.

Ayat. Jangan kautegarkan hatimu; dengarkanlah suara Tuhan pada hari ini.

Bacaan Injil: Matius 6:1-6.16-18

"Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan mengganjar engkau."

Dalam khotbah di bukit Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Hati-hatilah, jangan sampai melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat. Karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong supaya dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri di rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu, ‘Mereka sudah mendapat upahnya’. Tetapi jika engkau berdoa masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu, dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Dan apabila kamu berpuasa janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu, ‘Mereka sudah mendapat upahnya’. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Rabu Abu 3 Maret 2022

Lewat perantaraan Nabi Yoel, Allah meminta kita berbalik kepada-Nya, kata-Nya, ”Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan mengaduh. Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (YI 2:12-13).

Firman Tuhan tersebut mengingatkan kita bahwa Allah kita penuh dengan belas dan kasih. Ia ingin agar kita kembali kepada-Nya sebagai satu-satunya pribadi yang sungguh mencintai kita. Ia meminta demikian karena la tahu, bahwa kita sebagai ciptaan adalah Iemah dan mudah hancur karena kecenderungan kita mudah jatuh dalam dosa. Karena dosa-dosa kita, terkadang kita mudah sekali menyalahkan Tuhan dan sebagai akibatnya, kita mudah untuk memusuhi Dia. Berdasarkan hal inilah, maka Allah memanggil kita untuk kembali berdamai dengan Dia.

Saat hidup kita tak memiliki damai dengan Allah, saat itu pula kita tak memiliki damai dengan diri sendiri dan juga dengan sesama kita. Damai adalah suatu hal yang sungguh dirindukan oleh semua orang dan semua golongan. Semua orang, terlepas apakah mereka orang baik atau orang jahat, sungguh-sungguh mencintai damai, namun tak semua orang mampu untuk menjadi pembawa damai. Kita dapat menjadi pembawa damai apabila kita memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, asal dan tujuan hidup kita.

Salah satu cara untuk memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan adalah dengan melakukan tobat terus-menerus, kehendak tulus kita untuk memperbaiki kualitas hidup rohani kita. Bila kita melakukan tobat hanya sekadar sebagai kewajiban agama, maka hal itu tak akan berbuah dalam hidup kita; sebaliknya bila kita melakukan tobat karen;i kita mencintai Tuhan, maka hal itu akan membuahkan perubahan baik dalam hidup kita. Hendaknya firman Tuhan ini sungguh bergema dalam hidup kita, “Hati-hatilah, jangan sampai melakukan kewajiban agamamlJ di hadapan orang supaya dilihat. Karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga" (Mat 6:1).

Banyak orang hidupnya tidak menghasilkan buah yang baik karena melakukan ritual agama hanya sebagai sebuah kewajiban dan bukan sebagai ungkapan kasih kepada Tuhan. Selain itu, doa-doa yang mereka lakukan tidak memberikan perubahan hidup karena doa-doa mereka bukan ungkapan kasih melainkan hanya sebatas exhibitionisme - aksi Unjuk diri. Tuhan tidak berkenan akan hal ini. Ingatlah sabda Tuhan ini, “Jika engkau berdoa masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu, dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi" (ay. 6).

Bagi kita umat Katolik, Rabu Abu adalah saat yang sungguh kita nantikan, karena saat ini kita kembali diingatkan untuk berdamai dengan Tuhan. Saat ini pula kita kembali diminta oleh Tuhan untuk menjadi tersembunyi, tak tampak. Bagi kita, Rabu Abu adalah bagaikan jantung bagi tubuh kita, tak tampak ' namun sungguh vital, sungguh penting; karena saat ini kita selalu diingatkan untuk selalu kembali kepada Tuhan yang sungguh mengasihi kita. Apabila kita sadar bahwa hidup kita penuh kasih, maka kita pun akan menjadi pribadi yang penuh kasih. Rabu Abu adalah tanda kasih Allah kepada kita, demikian pula sebaliknya Rabu Abu adalah tanda kasih dan pertobatan kita kepada Allah, yang ditandai dengan penerimaan abu di dahi, karena kita mau kembali kepada-Nya.

Doa Renungan Harian Katolik

Ya Allah, bantulah kami umat kristiani untuk memulai puasa suci ini. Semoga dengan pengendalian diri, kami memperoleh kekuatan untuk mengalahkan kelesuan rohani. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.